Kisah Kesabaran Tanpa Batas



Oleh : Syaikh Muh. Al Arify

Abu Ibrahim bercerita :

Suatu ketika,aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak  bisa  pulang. Di sana ditemukan sebuah kemah lawas.... kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalam nya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang.

Ternyata orang ini kedua tangan nya buntung, matanya buta dan sebatang kara tanpa sanak saudara. kulihat bibirnya komat kamit mengucapkan beberapa kalimat.

aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
"segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia, segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia"

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan lebih jauh, ternyata sebagian besar panca indranya tak berfungsi, kedua tangan buntung, matanya buta, dan ia tak memiliki apa-apa lagi.

kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah anak yang mengurusinya?atau istri yang menemaninya? ternyata tak ada seorang pun.

aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiran ku, lalu ia bertanya "Siapa?","Siapa?".

"Assalamualaikum aku orang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini,Dimana istrimu,anakmu,atsu kerabatmu?"lanjutku.

"Aku orang yang sakit, semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku sudah meninggal", jawabnya.

Namun ku dengar kau mengulang-ulang perkataan "Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia...!!Demi Allah, apa kelebihan yang di berikanNYA kepadamu, sedangkan engkau buta, fakir,buntung kedua tangannya, dan sebatang kara?"ucapku.

"Aku akan menceritakannya kepadamu, tapi aku punya satu permintaan kepamu, maukah kamu mengabulkannya?"tanyanya.

"Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaan mu" kataku.

Eengkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia,bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir?

"Betul" kataku.Lalu katanya :"Berapa banyak orang yang gila?".

"Banyak juga" jawabku."Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyk manusia" Jawabnya.

"Bukankan Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar Adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?"Tanyanya.

"iya benar" jawabku. " maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak orang tersebut"jawabnya.

"Betapa banyak orang yang tuli tak bisa mendengar?" tanyanya.

"Banyak juga ...!"jawabku."Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak orang tersebut",katanya.

"bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?",tanyanya.

"iya benar" jawabku. "lalu berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?",tanyanya.

"Wa,banyak itu"jawabku."maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak orang tersebut" katanya.

"Bukankan Allah telah menjadikanku seorang Muslim yang menyembah-NYA,  mengharap pahala dari-NYA, dan bersabar atas musibahku?"tanyanya.

"iya benar"jawabku. lalu katanya :"Padahal banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka semua sakit?Mereka merugi di dunia dan akhirat..!!"

 "Banyak sekali",jawabku. "Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak orang tersebut" katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atasnya satu persatu, dan aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. ia begitu mantap dengan keyakinanannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah.

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang ,musibahnya tak sampai seperempat dari musibah beliau, mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya, tapi bila di bandingkan dengan orang ini, maka tergolong 'SEHAT'. Pun demikian, mereka meronta-ronta mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya, mereka amat tidak sabar dan tipis keimanan terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut sangat besar.

Aku pun menyelami fikiranku makin jauh, hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan “Bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang, maukah kau mengabulkannya?”.
“iya…Apa permintaanmu?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis… ia berkata :” Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun, dialah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan ku dan mengurusi segala keperluanku. Sejenak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tau apakah ia masih hidup dan di harapkan kepulangannya, ataukah telah tiadadan kulupakan saja, dan kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya”.

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan anak tersebut untuknya.

Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana cara mencari anak tersebut, aku tak tahu harus mulai dari mana.

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si anak, nampaklah olehkudari kejauhan sebuah bukit yang tak jauh dari kemah si pak tua.

Di atas bukit tersebut sekawanan burung gagak yeng mengerumuni sesuatu, maka segera terbesit di benak ku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Tatkala ku datangi tempat itu , ternyata si anak tersebut telah tewas dengan badan terpotong-potong, rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisa-sisanya untuk burung gagak.

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si anak tersebut.
Aku pun turun bukit, dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam.
Harusah kutinggalkan pak tua menghadapi nasibnya sendirian, ataukah kudatangi dia dan kukabarkan tentang nasib anaknya.

Aku berjalan menuju kemah pak tua, aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?
Lalu terlintaslah di benak ku akan kisah nabi Ayyub as maka kutemui pak tua dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Ku ucapkan salam, dan pak tua yang malang ini demikian rindu ingin tahu kabar anaknya. Ia mendahuluiku dengan bertanya”Dimana anakku?”

Namun kataku:”jawablah terlebih dahulu, siapakah yang paling di cintai Allah:engkau atau Ayyub as?”
“Tentu Ayyub as lebih di cintai Allah”jawabnya

“lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya?”tanyaku kembali.
“tentu Ayyub as”jawabnya

“kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah, karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung, ia di terkam oleh serigala dan di koyak-koyak tubuhnya….”kataku

Maka ia pun tersedak-sedak seraya berkata:Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya, namun sedakannya semakin keras hingga aku menalqinkan kalimat syahadat kepadanya, hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya, lalu aku keluar mencari orang untuk membantuku menngurus jenazahnya.

Maka kudapati tiga orang yang mengendarai unta mereka, nampaknya mereka adalah para musafir, maka ku panggil mereka dan mereka datang menghampiriku.

Kukatakan:” Maukah kalian menerima pahala dari Allah ? di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa untuk mengurusinya, maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”.

“Iya “ jawab mereka.

Mereka pun masuk kedalam kemah menghampiri mayat pak tua untuk memindahkannya, namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteiak:”Abu Qilabah….Abu Qilabah…!”

Ternyata Abu Qilabah adalah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia di rundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam kemah lusuh.

Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah.

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah, ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna, ia berjalan-jalan di tanah yang hijau, maka aku bertanya kepadanya :”Hai Abu Qilabah, apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini?”

Maka jawabnya:”Allah telah memasukkanku kedalam jannah, dan di katakana kepadaku :”Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabarnu, maka inilah surge sebaik-baik tempat kembali”

Kisah ini di riwayatkan olah Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya”AtsTsiqaat”dengan penyesuaian.
~kisah Asli yang ditulis Ibnu Hibban di Ats Tsiqaat disebutkan(diterjemahkan) oleh Ibnu Abdil Bari di bukunya yang ketiga”Balada Cinta Penemu Kalung Permata.”~




Comments

Popular Posts